Mengajarkan optimisme pada anak

Ada orang pesimis dan ada orang yang optimis, mana yang lebih baik? Penelitian menunjukkan bahwa orang pesimis lebih baik jika menghadapi tugas-tugas yang memerlukan ketelitian tinggi. Akan tetapi, orang optimis lebih baik hampir dalam segala hal lainnya. Orang optimis lebih berhasil dalam kehidupannya; baik dalam karir dan keluarga, serta lebih baik kesehatannya. Secara umum orang optimis lebih berbahagia. Jadi, sudah sepantasnya jika Anda berusaha membentuk anak Anda menjadi orang optimis, bukannya orang pesimis.

Orang optimis tidak akan mudah menyerah. Mereka yakin bahwa hal-hal buruk hanya sementara sifatnya sedangkan hal-hal baik bersifat lebih permanen. Mereka percaya bahwa diri mereka bisa berhasil sehingga memiliki tekad kuat dalam melakukan sesuatu. Mereka bersungguh-sungguh. Itu kenapa orang optimis memiliki peluang sukses lebih besar.

Memang agak sulit mengajarkan optimisme pada anak jika Anda sendiri orang pesimis. Sebaliknya, jika Anda orang yang optimis, maka dengan sendirinya Anda akan mengajarkan hal-hal yang penuh optimisme pada anak Anda. Namun demikian, ada beberapa prinsip umum yang bisa Anda terapkan untuk membantu anak Anda memiliki optimisme dalam hidup mereka.

Apa yang bisa dilakukan?
Seringlah memuji anak Anda dengan pujian spesifik. Misalnya katakan, “Kamu hebat bisa berlari sejauh itu”, ketimbang sekedar mengatakan, “hebat kamu!”
Jangan cela anak jika melakukan kesalahan apalagi memberikan hukuman. Doronglah untuk berbuat lebih baik. Pastikan anak tahu bahwa Anda tidak keberatan sedikit pun jika dia melakukan kesalahan sehingga dia tidak takut mencoba lagi ketika gagal. Alangkah baiknya jika memberinya hadiah atas kemauannya mengulang lagi usaha yang sebelumnya gagal. Berani kembali berusaha setelah gagal merupakan esensi dasar optimisme.
Biarkan anak Anda dengan semua yang diminatinya (dengan catatan asal tidak membahayakan jiwanya). Dukunglah kegiatannya sejauh mungkin. Kalau bisa Anda terlibat dalam apa yang diminatinya. Misalnya jika dia tertarik dengan sepak bola, maka dukunglah dengan membelikannya bola dan pakaian bola, menyaksikannya bermain atau bahkan mengajaknya bermain.
Jangan sekali-kali mencela keinginannya, betapapun absurd keinginan itu.
Fokuslah pada prestasi anak bukan pada kegagalannya. Kadang ada saja orangtua yang meskipun anaknya berhasil menduduki peringkat atas di kelas tapi masih saja mengkritik anak belum cukup baik karena ada nilai kurang di rapornya. Ingatlah, bahwa anak Anda tidak bisa dituntut sempurna terus menerus. Fokus pada kegagalan atau kekurangan bisa membuat anak pesimis dan tidak percaya diri.
Ajarkan anak Anda bahwa hal-hal buruk bersifat sementara sementara itu hal-hal baik bersifat permanen. Misalnya nilai anak Anda di mata pelajaran matematika jelek, maka ajarkan anak Anda berkesimpulan bahwa di pelajaran matematika nilainya memang jelek karena kurang berusaha atau lainnya, ketimbang menyimpulkan “karena bodoh.” Atau misalnya saat anak Anda gagal merangkai puzzle, jika memang itu bisa diselesaikan anak Anda, jangan katakan kepada anak bahwa dia memang bodoh dan tidak bisa mengerjakannya. Katakan saja dia kurang berkonsentrasi saat itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: